Haji Umroh Mabrur – Haji dan umroh yang sebenarnya adalah merupakan sebuah perjalan spiritual untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta Allah SWT. Bagi mereka yang melaksanakan ibadah Haji atau Umroh dengan hati yang benar-benar tulus dan ikhlas, pasti pada saat di sana akan mendapatkan pelajaran spiritual yang sangat bermakna dan berharga.

 

Inilah Ciri atau Tanda Haji Umroh Mabrur

 

Ketika kita melihat Ka’bah atau saat melakukan thawaf seakan-akan kita tersihir dan terbawa ke dalam suasana yang sangat ukhrowi. Hati bergetar ketika pertama kali kita melihat keindahan Ka’bah, bangunan yang berbentuk segi empat seperti bentuk bangunan kubus yang sungguh sangat berwibawa dan seakan mempunyai daya tarik bagi yang melihatnya.

Bagi yang pertama kali melihatnya tentunya akan menyentuh bathin ternyata inilah yang menjadi pusat arah ibadah umat Islam saat melaksanakan shalat.

Ketika kita melaksanakan thawaf dan berdesak-desakan dengan beribu-ribu manusia dari berbagai macam Negara di seluruh dunia yang berkunjung untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, timbul sebuah kesadaran bahwa betapa amat sangat kecilnya kita setelah di hadapan Allah SWT Sang Kreator alam semesta ini. Kita akan mendapatkan berbagai suku dan ras yang ada di dunia ini yang ikut serta dalam mengagungkan nama-Nya.

Ada yang mempunyai tubuh yang berukuran tinggi besar dengan kulit hitam seperti bangsa Negro, ada yang memiliki mata berwarna biru dan berkulit putih seperti halnya bangsa-bangsa dari asia tengah, ada juga yang berkulit sawo matang sebagaimana jamaah yang berasal dari melayu dan masih banyak lagi ras-ras yang lainnya dengan berbagai ciri dan bentuk tubuh dan bahasa yang berbeda satu dengan lainnya.

Seluruhnya mengumandangkan asma Allah sambil mengelilingi bangunan yang tertutu dengan sebuah kain hitam yang bernama Kiswah dan berdiri dengan kokohnya bangunan tersebut. Subhanallah

Selanjutnya ketika kita akan melakukan sa’i yang juga menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji dan umroh, kitapun akan mendapati bahwa semuanya melantunkan do’a-doa dan mengagungkan nama-nama Allah. Hati terasa sangat damai dan merasa terharu melihat hal seperti itu.

Dan begitupun selanjutnya dengan ritual-ritual ibadah lainnya, semuanya itu akan membuat kita merasa amat sangat kecilnya kita di hadapan Allah SWT. Selama ini kita sudah merasa yang paling benar sendiri ketika kita berada di lingkungan kita sendiri, merasa paling gagah sendiri, merasa paling sempurna dan rasa-rasa kesombongan yang lainnya, yang ternyata ketika kita berada di tanah haram, semuanya tidak ada artinya, sungguh kita selama ini berada dalam perasaan yang semu dan merugi. Astaghfirullah.

Demikian itulah yang merupakan hakikat sebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji atau umroh yang kita lakukan. Kita akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas keagungan Allah dan kebenaran akan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sehingga sudah seharusnya ketika kita pulang dari tanah suci ke tanah air kita akan menjadi manusia yang lebih berkualitas dibanding sebelum kita melakukan ibadah haji atau umroh. Inilah yang selanjutnya merupakan yang disebut dengan haji atau umroh mabrur.

Mungkin beberapa ciri dari haji atau umroh yang mabrur akan dapat kita lihat yang merujuk beberapa hadist Rasulullah SAW, yaitu ada empat ciri orang yang mendapat predikat haji mabrur :

  1. Setibanya di tanah air dan melakukan aktifitas seperti biasanya setelah melaksanakan ibadah haji atau umroh, tutur katanya selalu baik dan menyenangkan terhadap orang lain. Memiliki sifat yang terpuji seperti sabar, rendah hati (tawaddhu’) dan tidak sombong. Di tanah suci ia telah di didik menjadi hamba Allah yang rendah hati. Walaupun ia seorang pejabat, orang kaya atau penguasa, di tanah suci Dia memandangnya sama dengan rakyat kecil atau rakyat jelata. Semuanya hanyalah hamba-Nya semata yang ternyata tidak ada apa-apanya di mata Allah.
  2. Seseorang yang sudah menyandang sebuah gelar haji atau pernah umroh akan lebih taat dalam beribadah dibandingkan sebelum ia menunaikan ibadah haji atau umroh. Karena selama kita berada di tanah suci ia telah dilatih untuk taat beribadah kepada Allah SWT, terutama dalam ibadah salat. Kalau di Mekah ia selalu menunaikan salat berjamaah di Masjidil Haram ataupun di Masjid Nabawi ketika berada di Madinah Al-Munawwarah, setibanya di tanah air hal itu juga harus dilakukannya kembali. Dia tindaklanjuti dalam pergaulan dan kehidupan sehari-harinya.
  3. Seseorang yang sudah memiliki predikat haji atau pernah umroh akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela atau yang dilarang Allah. Orang yang mendapat haji mabrur tidak mau lagi berbohong dan berdusta. Ia akan selalu bekata jujur dalam kesehariannya ataupun profesinya. Jika kebetulan berprofesi menjadi seorang pedagang ia tidak akan mau mempermainkan timbangan yang tidak sesuai atau berbohong (curang), meteran atau perkataan bohong lainnya. Kalau ia seorang aparatur negara ia tidak akan menyalahgunakan wewenang atau melakukan korupsi. Itu merupakan sifat tercela yang tidak di sukai Allah SWT.
  4. Orang yang mendapat gelar haji atau umroh mabrur sifat sosialnya akan meningkat dari sebelumnya, begitu pula memiliki rasa kesetiakawanan terhadap sesama yang luar biasa. Ia akan menjadi rajin berinfaq fi sabilillah, menyantuni anak yatim, dan orang miskin juga menolong kepada sesama.

Mungkin dari empat hal yang disebutkan di atas itulah yang bisa menjadi tolak ukur kemabruran seseorang setelah melakukan ibadah haji atau umroh.

Karena haji bukanlah hanya urusan sebuah gelar atau nama saja, melainkan lebih jauh dari itu haji atau umroh mabrur merupakan sebuah pengalaman yang bersejarah dan sebuah perjalanan spiritual yang akan membuat seseorang yang melaksanakannya menjadi manusia yang lebih berkualitas dibanding ketika sebelum melaksanakan ibadah haji atau umroh.

Facebook Comments