Sebanyak 10 jamaah resiko tinggi sempat terlantar di Masjidil Haram, Makkah akibat memakai jasa joki thawaf sa’i dari mukimin. Beruntung, petugas Sektor Khusus, Daerah Kerja Makkah langsung bergerak cepat dalam menolong mereka yang sebagian dalam keadaan sakit.

 

 

Ada dua kasus yang peristiwanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Peristiwa yang pertama bermula ketika ada dua jamaah resiko tinggi yang sedang dalam kondisi sakit menggunakan jasa mukimin untuk melakukan tawaf dan sa`i.

Namun, keberadaan mukimin di luar koordinasi para petugas Masjidil Haram alias tidak resmi. Mukimin atau joki thawaf sa’i tersebut tiba-tiba ditangkap polisi Arab Saudi yang bertugas di Masjidil Haram wilayah sa`i dan tawaf.

Dua jamaah resiko tinggi tersebut akhirnya ditinggalkan begitu saja. Akhirnya, laporan masuk ke Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Petugas sektor khusus langsung bergerak cepat menangani kedua jamaah itu. Petugas akan membantu kedua jamaah menyelesaikan sa’i dan melakukan tahalul sebelum mereka diarahkan ke sektornya.

Ketika petugas kembali ke wilayah sa’i, peristiwa kedua yang lebih besar terjadi. Kini, ada delapan jamaah yang terlantar akibat joki thawaf sa’i, mereka ditangkap polisi Arab Saudi.

Petugas sektor khusus akhirnya membantu delapan jamaah untuk menyelesaikan sa’i. Namun, karena jumlah sumber daya manusia (SDM) terbatas, petugas pun menyewa jasa petugas kursi roda resmi Masjidil Haram untuk membantu jamaah menyelesaikan sa’i dan tahalul.

Setelah proses sa`i dan tahalul terlaksana hingga selesai, jamaah diantar dengan menggunakan kendaraan operasional sektor khusus. Petugas seksus menemukan mukimin yang bekerja sebagai joki Hajar Aswad. Namun, keberadaannya dinilai masih belum mengganggu dan merugikan jamaah.

Joki Hajar Aswad kami ketahui tidak merugikan jamaah. Ketika kami dalami selama ini belum ada jamaah yang jadi korbannya. Jamaah dan mukimin harus sama-sama ikhlas. Jamaah merasa nyaman memanfaatkan jasa mereka. Sementara, joki Hajar Aswad merasa diuntungkan dengan uang yang mereka dapat.

Petugas sektor khusus tetap terus memantau kemungkinan adanya joki nakal dan mengimbau mukimin jangan mengambil risiko dengan menjadi joki sa’i atau tawaf bagi jamaah yang tidak mampu melakukannya. Karena, jika ketahuan oleh pihak keamanan Masjidil Haram, maka mereka bisa ditangkap dan jamaah menjadi terlantar.

Potensi mukimin ketahuan jadi joki itu sangat besar. Karena, pengawasan di wilayah Masjidil Haram kini sudah samakin ketat karena pihak keamanan itu sudah mampu membaca gelagat joki mukimin meski mereka mungkin berpakaian ihram, memakai gelang jamaah dan tas jamaah.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1437 H/ 2016 mengimbau kepada jamaah haji untuk lebih waspada terhadap keberadaan joki thawaf sa’i. Jika jamaah menemukan kesulitan, dapat menghubungi petugas PPIH. Pihaknya berharap jamaah dapat melaksanakan haji dengan baik.mereka juga diimbau untuk mengikuti petunjuk dan peraturan yang sudah ditetapkan PPIH.

Facebook Comments